Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Bisa Menjadi Awal Kesuksesan – Maukah Anda Memulainya?

Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Bisa Menjadi Awal Kesuksesan

Setiap orang pasti punya hobi. Entah apapun bentuknya. Bisa mulai dari sekedar membaca buku hingga mendaki gunung. Rasanya Anda juga punya hobi, iya kan? Tetap, rernahkah terpikirkan untuk mencoba mengubah hobi menjadi bisnis? Maksudnya untuk mendapatkan uang atau keuntungan dari apa yang biasa Anda lakukan demi kesenangan dan kepuasan saja?

Pernah?

Banyak orang yang enggan untuk melakukannya. Sesuatu yang bisa dimaklum karena tidak setiap orang hanya terfokus pada menghasilkan uang saja. Manusia juga butuh pelepasan dari tekanan sehari-hari untuk menghibur diri dan menjauh dari kegiatan rutin. Dan, mengubah hobi menjadi bisnis sendiri dianggap akan menghilangkan apa yang biasa didapat dari hobi sendiri.

Padahal, sebenarnya tidak demikian.

Pernahkah Anda berpikir apa yang dirasakan J.K. Rawlings saat menulis? Yah, saya pikir sama dengan apa yang saya rasakan. Sebuah kesenangan dan kegembiraan. Bebas berekspresi. Tetapi, bukankah ia terbukti bisa menghasilkan bisnis milyaran dollar dari apa yang suka dijalaninya, menulis.

Kim Lavine, seorang ibu rumah tangga, hobinya membuat bantal untuk microwave dan membagikannya kepada guru-guru anaknya, tetangga. Ketika suaminya kehilangan pekerjaan, ia mengubah apa yang disukainya menjadi landasan sebuah bisnis, Bantal Lavine’s Wuvit yang kemudian berkembang menghasilkan jutaan dollar bagi dirinya dan keluarga.

Kim mengubah hobi menjadi bisnis yang sangat menguntungkan.

Atau, kalau nama itu kurang akrab dengan Anda, mungkin nama Steve Wozniak lebih terkenal. Kalau tidak tahu berarti keterlaluan karena ia adalah salah satu pendiri APPLE, sebuah perusahaan produsen gadget terkemuka di dunia.

Wozniak terkenal sebagai penghobi utak atik komputer. Ketika, ia bertemu dengan Steve Jobs, ide itu dikembangkan menjadi sebuah perusahaan bisnis raksasa yang produknya membuat fans-nya rela mengantri di depan toko 2 hari 2 malam sebelum diluncurkan.

Mengapa Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Bisa Menjadi Awal Kesuksesan?

Bukan tanpa sebab Kim Lavine bisa mendirikan bisnis berbasiskan hobinya. Ada beberapa dalam hobi yang bisa menjadi landasan bagi berdirinya bisnis, seperti :

  • Passion atau gairah : Kim melakukan sesuatu yang disukainya dan hal itu tidak membuatnya merasa tidak nyaman bahkan ketika didorong oleh PHK suaminya
  • Pengetahuan : tidak perlu pembelajaran karena Kim sudah mengetahui apa yang harus dilakukan karena ia menguasai berbagai teknik pembuatan barangnya sendiri
  • Jaringan : guru-guru anaknya, tetangga, dan orang-orang lain yang pernah dihadiahi produknya tentunya akan menyebarkan berita dan informasi tentang hadiah bantal microwave yang diterimanya

Tiga dari 4 hal yang harus diperhatikan untuk menemukan peluang usaha yang bagus dan cocok sudah ada pada hobi yang digelutinya.

Jelas hal itu menghemat banyak waktu sehingga Kim bisa segera bergerak dan bisnisnya bisa berjalan dengan segera.

Memang, tidak langsung membuahkan hasil. Butuh waktu 2 tahun sebelum hasilnya terlihat. Dan butuh kerja keras untuk itu. Kim Lavine memasarkan sendiri produk bantal microwave-nya secara eceran dengan menggunakan truknya sebelum kemudian memiliki toko dan perusahaannya.

Sebuah hal yang wajar karena bisnis juga memerlukan kerja keras dan kerja cerdas.

Tetapi, dasar yang dimilikinya dari hobinya mempercepat semua proses itu. Ia tidak perlu berpikir tentang apa yang harus dijual, atau cara memproduksinya, atau dimana membeli materialnya. Ia hanya perlu berfokus diri pada bagaimana menjualnya saja.

Dan, ia pun meraup jutaan dollar dan terus berkembang hingga saat ini.

Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Bisa Menjadi Awal Kesuksesan 3

4 Pertanyaan Yang Harus Diajukan Sebelum Mengubah Hobi Menjadi Bisnis

There is no such thing as a free lunch (Tidak ada yang namanya makan siang gratis)

Jujur saja. Kalau Anda langsung berpikir bahwa semuanya akan mudah dan tanpa resiko, berarti ada masalah dengan mentalitas Anda. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tanpa konsekuensi atau resiko.

Semua hal pasti ada konsekuensinya.

Begitu juga dalam hal mengubah hobi menjadi bisnis atau usaha.

Ada harga yang harus dibayar.

Orientasi dan karakter dunia hobi dan bisnis berbeda jauh sekali dalam banyak hal. Ada gap yang lebar antara keduanya. Tidak mungkin menggunakan pendekatan yang biasa dilakukan saat melakukan hobi di dunia bisnis, begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu akan perlu ada penyesuaian, perubahan, dan tentunya pengorbanan jika hendak menjadikan hobi sebagai bisnis.

Tidak bisa tidak.

Mau tidak mau.

Suka tidak suka.

Dan, siapkah Anda mengorbankan sebagian hasil dari “hobi” untuk mendapatkan “hasil” materi berupa uang? Itu adalah pertanyaan yang paling penting dalam hal ini. Bagaimanapun, bisnis adalah tentang mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil materi.

Pengorbanan apa?

Mungkin 5 pertanyaan ini bisa membantu memberikan gambaran apa saja yang harus dikorbankan untuk mengubah hobi menjadi bisnis.

a) Maukah menukar kesenangan dengan kerja keras?

Santai. Dilakukan seenaknya saja. Itu adalah ciri khas dari sebuah hobi.

Orientasinya memang untuk menghadirkan kesenangan itu dalam diri manusia.

Dan, hal itu harus dikorbankan dan ditukar dengan kerja keras. Tidak lagi bisa dilakukan dengan serampangan dan harus terukur yang merupakan ciri khas dari dunia bisnis.

Tidak ada bisnis yang berhasil tanpa kerja keras, jadi harus ada perubahan sikap dan mentalitas meski sebenarnya apa yang dilakukan sama. Kim Lavine melakukannya dengan menjadi penjual hasil karyanya secara eceran dengan truknya.

b) Maukah menukar kebebasan dengan keterikatan?

Membagikan sebagai hadiah tentunya tidak ada tekanan apa-apa. Suka ya syukur, tidak ya sudah. Juga kapan kita mau menghadiahkannya, ya terserah kita sendiri.

Berbeda dengan dalam dunia bisnis. Pembeli tidak bisa menunggu kita mood untuk memberikan barangnya. Mereka memiliki batas, meski ada toleransinya, dan untuk itu mereka bersedia membayar. Sebagai penjual, mau tidak mau kita harus bisa memenuhi tenggat waktu yang dikehendaki supaya bisnis tetap berjalan.

Sifat bebas terpaksa harus hilang ketika hobi beralih menjadi bisnis.

c) Uang tidak perlu dipikirkan vs harus selalu berpikir tentang uang, mana yang menang?

Dalam hobi, uang tidak pernah menjadi tujuan. Orientasinya adalah kesenangan. Bahkan, tidak jarang berapapun uang yang harus dikeluarkan menjadi tidak masalah selama yang melakukan merasa senang.

Berbeda dalam bisnis.

Hal ini tidak bisa dilakukan.

Segala sesuatunya harus dihitung dengan uang. Berapa uang yang masuk? Berapa uang yang keluar? Berapa kemungkinan uang yang akan dihasilkan kalau produknya terjual?

Perhitungan harus dilakukan secara ketat dan terencana. Memang begitulah orientasi dari bisnis apapun, uang adalah orientasi utamanya, dan bukan kesenanangan

d) Apakah saya punya kemampuan untuk menghadapinya? Bisakah menghadapi tekanan?

Tidak ada resiko dalam hobi. Gagal atau tidak, bukan sebuah masalah. Tidak ada tekanan sama sekali. Hal paling buruk adalah rasa kesal kalau gagal melakukannya.

Tidak lebih.

Berbeda dengan dalam bisnis. Kegagalan akan berujung pada kehilangan uang, yang tentunya tidak akan pernah menyenangkan dan bisa membuat bukan hanya lebih bete, tetapi juga lebih miskin.

Tekanan itu juga akan hadir dalam banyak hal lain, seperti ketika pembeli atau pengguna jasa tidak puas, order hanya sedikit, harga pasar terlalu rendah, dan masih banyak lagi.

Hal itu tidak terhindarkan karena karakter dunia bisnis adalah tekanan yang pasti hadir dari segala sisi.

Mampukah kita berpindah dari sisi dunia tanpa tekanan ke dunia yang tidak terpisahkan dari tekanan itu sendiri.

Maukah?

Itu pertanyaannya.

Pasti tidak mudah mengambil keputusan. Tetapi……

Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Bisa Menjadi Awal Kesuksesan 5

Sebenarnya tidak terlalu buruk dan semenakutkan yang dikatakan teori. Masih banyak sisi positif dan kesenangan yang bisa didapat dari mengubah hobi menjadi bisnis, seperti

  • kita tetap melakukan hal yang kita sukai, misalkan kita hobi memasak, maka ketika membuka rumah makan, tetap saja kita melakukan hal yang kita sukai, yaitu memasak. Hanya tujuannya yang berbeda
  • kesenangan “murni” sebuah hobi akan “hilang”, tetapi bukankah akan tergantikan dengan rasa senang saat melihat rekening uang di bank kita semakin gendut. Kesenangan ditukar kesenanan dalam bentuk yang berbeda
  • kebebasan tidak hilang, hanya ditunda dan dipindahkan waktunya. Kalau uang sudah semakin banyak terkumpul, bukankah kita bisa menyewa orang lain dan kemudian membebaskan diri dari kungkungan rutinitas bisnis. Hanya beda waktunya saja.

Tidak semua yang terkait dengan hobi akan hilang. Meski banyak yang mengkhawatirkan demikian, akan tetap ada sebagian unsur hobi yang tetap melekat ketika dijadikan bisnis.

Tidak hilang sama sekali.

Apalagi, kalau kita bisa mengkompromikan segala sesuatunya. Akan selalu ada titik tengah antara dua titik. Dan, hal itu berlaku dalam hal ini juga. Kita bisa menentukan mana titik kompromi antara hobi dan bisnis.

Semua tergantung pada diri kita.

Hobi Seperti Apa Yang Bisa Diubah Menjadi Bisnis?

Coba ambil contoh kecil saja memancing. Sebuah hobi yang pelakunya mirip orang malas karena tidak banyak bergerak dan hanya diam menunggu.

Mungkinkah bisa dibangun sebuah bisnis dari hal seperti ini?

Bagaimana dengan yang di bawah ini, segala sesuatunya terkait dengan memancing, seperti

  • membuka toko alat pancing online
  • membuka kursus memancing
  • membuat blog tentang memancing
  • menjual umpan untuk memancing (di laut atau di sungai)
  • membuka kolam pemancingan

Seorang pemancing pasti punya pengetahuan tentang segala hal yang seperti ini dan tahu bahwa jumlah pemancing itu banyak sekali di dunia. Lalu, mengapa tidak memanfaatkan apa yang ada untuk menghasilkan uang?

Jangan tanya bisnis apa yang bisa lahir dari seorang yang gemar memasak? Lebih tidak terhitung lagi.

Dalam dunia bisnis, segala sesuatu bisa dijadikan lahan untuk menghasilkan uang. Selama ada pembeli/pengguna, disana ada kesempatan untuk mengeruk keuntungan.

Yang diperlukan adalah kreatifitas dan kemauan untuk menemukan apa yang dibutuhkan.

Seorang yang hobi tanaman hias bisa menjual anakan tanaman miliknya, atau menjual pupuk buatan sendiri. Seorang yang mahir berbahasa Inggris bisa menjadi guru privat atau mendirikan kursus bahasa Inggris. Seorang yang mahir bermain tenis bisa membuka les tenis.

Semua mungkin untuk dijadikan bisnis.

Om Kicau adalah nama sebuah blog Indonesia yang membahas satu hal saja, segala sesuatu tentang burung. Itu saja. Tidak ada yang lain. Pengunjungnya banyak sekali dan pemiliknya memanfaatkannya untuk menjual berbagai hal terkait dengan perawatan burung atau berbagai jenis burung.

Jadi, jika pertanyaannya adalah hobi apa yang bisa diubah menjadi bisnis, maka jawabnnya adalah semua hobi bisa.

Masalahnya hanya satu ” Maukah Anda?”.

Saya mau, dan karena hobi saya menulis, maka saya akan coba ubah menjadi sebuah lahan bisnis dan bisa menghasilkan uang untuk saya. Hal itu sedang berjalan dan memang ternyata, walau harus bekerja keras, tetap ada kesenangan saat melakukannya. Dan, yang pasti ada kesenangan lain saat menerima uang yang diproduksi dari kegiatan yang dulu 100% hobi itu.

Bagaimana dengan Anda?

Maukah?

4 Hal Yang Harus Diperhatikan Untuk Menemukan Peluang Usaha Yang Bagus dan Cocok

3 Hal Yang Harus Diperhatikan Untuk Menemukan Peluang Usaha Yang Bagus dan Cocok

Bisnis apa ya yang bagus ? Peluang usaha apa yang kira-kira menguntungkan ya? Pertanyaan- pertanyaan yang selalu menjadi hal pertama yang muncul di benak semua orang saat hendak terjun ke dunia bisnis.

Tidak mudah, tetapi sebenarnya tidak sulit untuk menemukan sebuah peluang usaha untuk ditekuni dan digeluti. Yang menjadi masalah adalah mayoritas orang berusaha mencarinya ke luar dari dirinya. Mereka akan bertanya kesana kemari, biasanya orang yang sudah menjadi wirausaha untuk menemukan ide tentang bisnis apa yang pantas digelutinya.

Memang dimaklum, hanya sebenarnya bukan hal itu yang pertama harus dilakukan untuk menemukan sebuah peluang usaha yang cocok dan bagus bagi diri kita. Orang lain hanya bisa memberikan informasi, pengetahuan dan pengalaman saja, tetapi cocok dan bagus tidaknya sebuah peluang tidak tergantung kepada mereka.

Justru, hal itu akan tergantung pada diri sendiri.

Ya, diri sendiri. Bukan orang lain.

Seperti juga dalam banyak hal, prinsip “The man behind the gun” atau “Orang di belakang senjata” sebagai penentu berlaku. Dalam hal ini, beberapa faktor yang ada dalam diri kita lah seharusnya yang menjadi acuan untuk menemukan peluang bisnis yang cocok bagi diri kita.

Paling tidak ada 3 hal yang harus ditanyakan kepada diri sendiri dalam hal ini, yaitu

Passion (Gairah)

Uang memang motivasi utama dalam sebuah bisnis karena bisnis itu adalah tentang cara menghasilkan uang.

Tetapi, kalau Anda menjalankan sebuah usaha di bidang yang Anda sukai maka hal itu akan memberikan dorongan lebih kuat lagi. Ditambah dengan kesenangan yang didapat bergelut dalam sesuatu yang memang kita sukai.

Steve Wozniak, pendiri Apple bersama Steve Jobs, memiliki hobi merakit komputer pada masa mudanya. Ia kemudian memutuskan bekerja sama dengan Steve Jobs untuk menjual hasil karyanya. Keduanya menjual beberapa benda untuk memodali apa yang mereka ingin lakukan dan memulainya dari garasi rumah.

Gairah dan semangat yang dimiliki keduanya lah yang kemudian menjadikan Apple menjadi raksasa di industri komputer hingga saat ini.

Pertanyakan kepada diri sendiri, apa yang bisa membuat Anda bersemangat dan bergairah dalam mengerjakan sesuatu. Apakah membuat program komputer? Apakah otomotif? Ataukah memasak?

Tanyakan dan temukan apa yang paling membuat Anda bersemangat dan bergembira saat mengerjakannya. Lalu, pikirkan peluang usaha apa yang ada di sektor yang Ada sukai.

Buatlah list sebanyak mungkin tentang peluang-peluang bisnis yang berpotensi, menurut Anda. Semakin panjang semakin bagus karena dengan begitu maka akan terlihat berbagai potensi yang kemungkinan bisa digali dan dikembangkan agar bisa memproduksi uang bagi kita.

Tidak masalah kalau ternyata daftarnya menjadi sangat panjang. Hal itu nanti akan dipersempit dengan 2 faktor lagi dari diri kita sebagai filternya.

Karena itulah, Passion atau Gairah diletakkan sebagai faktor pertama yang harus ditanyakan untuk menemukan peluang usaha yang bagus dan cocok bagi diri kita.

Pengetahuan

Bisnis bukanlah sekedar menanamkan modal dan kemudian ongkang-ongkang kaki menunggu uang datang. Tidak akan pernah ada hasil jika hal itu dilakukan. Uang baru bisa datang ketika bisnis dikelola dengan baik agar bisa menjadi mesin penghasil uang.

Dan, untuk melakukan hal itu tentunya perlu pengetahuan tentang bidang dimana bisnis itu berada.

Analoginya, seorang operator mesin jahit tidak akan bisa menjahit jika ia tidak tahu bagaimana memasang jarum dan memasukkan benang ke dalamnya.

Ia perlu pengetahuan tentang mesin jahit dan cara mengoperasikannya.

Oleh karenanya, memiliki pengetahuan tentang bisnis yang akan ditekuni akan memberikan nilai lebih kepada siapapun. Seorang yang sangat paham tentang mesin mobil, tentunya tidak akan terlalu bermasalah jika mendirikan usaha perbengkelan.

Bukankah itu yang Steve Wozniak dan Steve Jobs punya ketika mendirikan Apple?

Coba lihat ke dalam diri kita, pengetahuan apa yang kita miliki. Apakah kita tahu tentang permobilan? Tahukah kita tentang usaha konstruksi? atau apapun itu?

Lalu, lihat kembali daftar peluang usaha yang sudah dibuat pada langkah pertama.

Cocokkan dengan pengetahuan apa yang kita miliki dan coret peluang usaha yang kita tidak kita kuasai, meskipun kita menyukainya. Rasa suka tidak ada guna dalam hal ini kalau tidak ditunjang dengan pengetahuan yang cukup. Hal itu bisa berujung buruk biasanya.

Kecuali, jika Anda begitu bergairah dan bersemangat tentang satu hal, sehingga tidak mau mencoretnya dari daftar, maka yang harus dilakukan adalah menambah pengetahuan dulu di bidang itu. Pelajari dari sumber manapun dan luangkan waktu untuk terus menambah apa yang kita ketahui tentang bidang tersebut.

menemukan peluang usaha yang bagus dan cocok

Modal

Tidak ada bisnis yang bisa dilakukan tanpa modal. Bohong besar kalau hal itu bisa dilakukan.

Semuanya butuh modal untuk menggerakkan sebuah usaha bisnis.

Modal memang dalam definisi resminya adalah”uang” yang ditanamkan dalam sebuah usaha bisnis. Dan, mayoritas orang berpikir bahwa modal dalam hal ini hanyalah sebatas itu saja.

Kebanyakan tidak berpikir bahwa modal itu sendiri ada yang dalam bentuk materi (uang) atau non materi.

Saat memilih sebuah peluang usaha yang akan ditekuni, modal harus menjadi salah satu hal yang dipikirkan. Modal berbentuk uang adalah salah satunya, tetapi bukan semuanya.

Kita juga harus memikirkan beberapa modal lain, yang bisa menunjang dan sesuai dengan bisnis yang akan dijalani, seperti

Jaringan (Network) :

Ada satu alasan mengapa di dunia bisnis orang selalu membawa kartu nama karena benda itu sangat menunjang untuk membangun pertemanan dan jaringan. Dengan begitu, orang lain diharapkan akan ingat kepada kita dan kita pun akan ingat kepada dirinya.

Terlihat tidak berharga, tetapi semakin banyak orang yang kita kenal, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan “sesuatu” di kemudian hari. Tentunya, jika hal itu bisa dijaga dengan baik.

Jika kita memiliki network dalam bidang tekstil, tentunya hal itu akan sangat membantu ketika kita mau membuka sebuah toko bahan pakaian. Kita akan lebih mudah mendapatkan barang kalau kita punya kenalan. Tidak jarang juga, kita bisa mendapatkan harga murah kalau relasi yang kita bangun sangat baik.

Ini adalah sebuah modal besar yang kerap tidak dihargai atau diperhitungkan, tetapi bisa sangat berperan dalam menentukan peluang usaha yang cocok bagi kita.

Kalau kenalan kita kebanyakan berasal dari industri otomotif, kita bergairah di dalamnya, dan memiliki pengetahuan tentang itu, lalu mengapa tidak membangun usaha di bidang otomotif?

Klop sudah.

Lokasi :

Lah?

Dimana Anda tinggal? Mudahkah diakses dari jalan raya?

Sepertinya sepele dan tidak berarti apa-apa, tetapi dalam dunia bisnis, lokasi sering menjadi penentu apakah uang akan datang atau pergi. Kesalahan dalam menentukan lokasi, dan jika tidak ditangani dengan baik, sebesar apapun modal yang ditanamkan bisa terbang begitu saja secara sia-sia.

Sebaliknya, kalau lokasinya pas, seorang penjual pecel bisa kebanjiran pembeli dan kecapekan sendiri karena terlalu banyak pesanan.

Ketika Anda sedang berusaha menemukan peluang usaha yang cocok untuk diri sendiri, lihat lokasi sekitar. Adakah yang bisa bermanfaat bagi kepentingan bisnis yang akan Anda jalani? Siapa tahu rumah Anda bisa menjadi sesuatu yang sangat menunjang bisnis.

Dan tentunya, UANG :

Tanpa modal, tidak akan ada bisnis yang jalan. Bahkan, seorang makelar yang katanya tidak memakai modal saja, juga sebenarnya membutuhkan modal dalam bentuk materi.

Coba saja bayangkan kalau ia tidak bisa membeli pulsa atau bensin untuk pergi kesana sini. Bisakah bisnisnya sebagai penghubung bisa berjalan dengan baik? Pastinya tidak sama sekali.

Segala sesuatu memerlukan modal. Apalagi kalau modal non materi diperhitungkan.

Dalam hal modal sebagai faktor menemukan peluang usaha yang cocok, cobalah tanyakan berapa modal yang saya punya. Setiap orang tentunya menginginkan sebuah bisnis yang besar, tetapi kalau keuangan kita tidak memungkinkan, mengapa harus memaksakan diri.

Lihat lagi daftar peluang usaha yang sudah dibuat dan penuh coretan tadi. Mana peluang usaha yang paling memungkinkan untuk ditekuni sebagai tahap awal.

Tidak salah kalau berpikiran modal bisa didapat dengan meminjam dari bank. Tidak salah sama sekali karena banyak bank mengalokasikan dana yang mereka simpan untuk itu. Jadi, hal itu sangat dimungkinkan.

Tetapi, pinjaman bank itu mengandung resiko dan akan menanmbah tekanan. Padahal, Anda sendiri baru akan memulai. Beban akan bertambah berat baik secara keuangan ataupun psikologis.

Yang terbaik adalah memakai apa yang dipunya sebagai modal. Kalau memang perlu menjual aset untuk itu, lakukan, karena hal itu lebih baik dibandingkan dengan meminjam.

Semakin sedikit kan peluang usaha yang terdaftar karena pasti sudah banyak yang dicoret.

Yang terakhir yang harus dipertimbangkan adalah :

Keluarga

Kecuali Anda seorang yang tanpa pasangan dan anak, tidak punya bapak ibu, kakak, atau adik, maka keluarga adalah hal yang harus dipertimbangkan saat mencari peluang usaha yang cocok dan bagus.

Kenapa?

Jika Anda seorang suami atau istri, tanyakan untuk apa Anda ingin berbisnis. Mencari uang pasti merupakan jawabannya.

Lalu, tanyakan lagi, untuk apa uang itu, apalagi kalau sudah ada banyak?

Keluarga pastinya.

Memang, sadar atau tidak, berbisnis itu kerap dilakukan untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga. Semua orang  ingin anak istrinya hidup nyaman dan berkecukupan.

Jadi, jangan pernah lupa mempertimbangkan keluarga saat menjatuhkan pilihan bisnis apa yang akan ditekuni.

Alasannya :

  1. Kalau bisnis itu tidak menghasilkan sesuatu yang mencukupi kebutuhan keluarga, lalu untuk apa berbisnis?
  2. Kalau bisnis itu membuat kehidupan keluarga goncang dan terganggu, apalagi tanpa hasil dalam bentuk uang, mengapa harus dilanjutkan?
  3. Kalau peluang usaha yang ada membahayakan keluarga dalam berbagai aspek, pertanyakan mana yang lebih penting antara keluarga dan uang? Bisakah ditemukan kompromi dan jalan tengah agar keduanya bisa didapatkan?

Pertimbangkan efek dari bisnis yang akan ditekuni, apakah memberi manfaat kepada keluarga, dan apakah tidak akan ada dampak buruk bagi kehidupan yang sudah ada.

Keluarga tidak bisa diabaikan karena, dari mereka lah salah satu sumber utama modal non materi berasal, seperti semangat, kemauan kerja keras, dan dorongan untuk menjadi lebih baik.

Jangan pernah abaikan mereka. Jadi, mintalah pendapat mereka tentang apa yang mau Anda jalani.

Percayalah, setelah itu Anda akan menemukan bahwa daftar peluang usaha yang tadi dibuat sudah sangat pendek sekali. Mungkin, hanya akan tersisa beberapa butir saja..

Dan, itulah peluang usaha yang bagus dan cocok untuk Anda tekuni karena mayoritas unsur utama untuk sukses dalam sebuah bisnis sudah tercakup di dalamnya.

Jangan khawatir kalau kelihatannya tidak menjanjikan, karena tidak ada bisnis yang menjanjikan atau tidak menjanjikan. Semua peluang bisnis itu sama.

Yang membuatnya bisa menjanjikan ada pada diri Anda yang lain, yang namanya komitmen, kerja keras, kerja cerdas, dan konsisten. Bukan pada peluangnya sendiri.