Mengapa Memberi Hutang Membahayakan Bisnis Bermodal Kecil ?

Mengapa Memberi Hutang Membahayakan Bisnis Bermodal Kecil

Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan bisnis bermodal kecil dan kerap membuatnya gagal adalah karena memberi hutang kepada pembeli atau pengguna jasanya. Ya, ini adalah masalah yang sering dialami oleh usaha rumahan atau usaha lainnya yang hanya mengandalkan modal pas-pasan.

Alasan memberi hutang biasanya karena pembelinya sudah dikenal, seperti tetangga atau saudara, atau teman. Rasa tidak enak kerap menjadi penyebabnya.

Masalahnya adalah pada akhirnya hal itu merugikan pengelola usaha bermodal kecil seperti itu.

Alasan utamanya adalah karena dengan memberikan hutang, maka perputaran uang yang menjadi sangat lamban. Hal itu pada akhirnya akan menempatkan usaha yang dijalankan dalam kesulitan karena

  • sulit membeli bahan baku untuk produksi
  • sulit membayar tagihan yang jatuh tempo
  • tidak memiliki cadangan dana untuk sesuatu yang tidak terduga
  • tidak memiliki dana untuk mengembangkan usaha

Cash flow atau perputaran uang yang terhambat juga berarti usaha untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan pun mengecil. Bahkan, bukan tidak mungkin untuk tetap bisa mempertahankan omset, sebuah bisnis bermodal kecil yang memberikan hutan sering harus disuntik dana segar baru biasanya dari anggaran rumah tangga si pemilik.

Hal ini juga akhirnya menyebabkan manajemen keuangan pun menjadi rancu karena uang untuk usaha tercampur dengan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Oleh karena itu semua, memberi hutang membahayakan bisnis bermodal kecil.

Pembayaran secara cash adalah yang terbaik karena dengan begitu akan memastikan arus keluar masuk uang lancar seperti yang direncanakan.

Untuk mengatasinya, sebenarnya para pemilik usaha kecil seperti ini harus bisa menjelaskan kepada pembeli bahwa mereka tidak bisa memberikan hutang. Bukan karena kejam dan tidak mengerti, tetapi karena kalau hal itu dilakukan akan menghadirkan banyak kesusahan bagi dirinya.

Sebuah hal yang tidak mudah dikerjakan, tetapi harus dilakukan kalau memang mau usaha yang dijalankannya tetap bertahan hidup dan berkembang.

Pengertian UMKM, Kriteria dan Klasifikasi

Pengertian UMKM Kriteria dan Klasifikasinya

Di dunia wirausaha, kerap kita mendengar istilah atau singkatan UMKM. Apa sih sebenarnya pengertian UMKM? Kriterianya apa? Klasifikasinya bagaimana?

Untuk menjelaskan istilah ini, sebaiknya kita mengacu pada UU RI No 20 Tahun 2008 mengenai UMKM. Ya, di Indonesia sudah ada peraturan perundang-undangan yang menjelaskan mengenai batasan dan juga penjelasan mengenai apa itu UMKM.

Pengertian UMKM

UMKM sendiri adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Kata Mikro, Kecil, dan Menengah dalam UU tersebut disebutkan sebagai berikut :

  1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang .
  2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang.
  3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang

Itulah pengertian UMKM.

Kriteria UMKM

Kriteria dan batasan dari UMKM ditentukan berdasarkan pada besar modal , aset, dan omset yang dipergunakan untuk menjalankan usaha.

URAIAN KRITERIA
           ASSET           OMZET
1 USAHA MIKRO Maks. 50 Juta Maks. 300 Juta
2 USAHA KECIL > 50 Juta – 500 Juta > 300 Juta – 2,5 Miliar
3 USAHA MENENGAH > 500 Juta – 10 Miliar > 2,5 Miliar – 50 Milia

Klasifikasi UMKM

  1. Livelihood Activities, pada dasarnya adalah UMKM yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mencari nafkah. Usaha seperti warung, bengkel sepeda motor, dan banyak lagi usaha rumahan masuk dalam kategori ini
  2. Micro Enterprise, merupakan jenis UMKM yang memiliki sifat pengrajin dan memproduksi sesuatu tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan dan belum memahami berbagai sistem manajemen bisnis serta biasanya masih tergantung pada pihak lain untuk memasarkan barangnya
  3. Small Dynamic Enterprise, merupakan UMKM sudah memiliki kemampuan wirausaha yang lebih baik. Jenis yang satu ini sudah memiliki manajemen yang lebih baik dan mampu mengerjakan serta menjual produknya baik di dalam atau luar negeri
  4. Fast Moving Enterprise, merupakam UMKM yang bisa dikata sudah menjadi perusahaan yang lumayan besar dan mampu memanaje segala sesuatunya sendiri dan sedang mengarah menjadi perusahaan besar.

Itulah pengertian, kriteria, dan klasifikasi UMKM.

Semoga bermanfaat.