Mentalitas Instan Tidak Cocok Untuk Dunia Bisnis

Mentalitas instan atau mental instan adalah sikap mental yang tidak mau repot, capek dan ingin semuanya serba cepat tanpa mempedulikan bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan butuh waktu. Pemilik mentalitas instan pun kerap mengabaikan kenyataan bahwa ada aturan dan tahap dalam setiap hal dan mereka cenderung selalu berusaha mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya.

Sikap mental seperti ini banyak ditemukan dalam masyarakat dewasa ini, seperti contoh hal sederhana saja di jalanan Indonesia. Banyak sekali dari pengguna jalan yang gemar melawan arus lalu lintas karena mereka tidak mau berkendara sedikit lebih jauh sesuai dengan yang ditentukan.

Hal seperti ini adalah wujud sederhana dari mental instan yang dimiliki si pengendara.

Penyebab Mentalitas Instan

Hadirnya mental instan dalam diri seseorang tidaklah tiba-tiba begitu saja. Sikap ini biasanya hasil dari banyak hal, seperti :

1. Pola Didik

Seorang anak yang terbiasa diasuh dalam keluarga yang mementingkan hasil dan tidak peduli pada cara mencapainya, cenderung akan memiliki sikap mental yang ingin semua keinginannya terwujud. Tidak peduli apakah apa yang dicapainya tidak melalui jalan yang benar.

Sebagai contoh adalah dalam hal sekolah. Banyak orangtua yang ingin anaknya belajar di sekolah negeri favorit tertentu.

Sayangnya, kapasitas sekolah negeri terbatas dan tidak semua anak bisa masuk ke dalamnya. Penyaringan biasanya dilakukan dengan standar yang ketat dan nilai hasil ujian yang tinggi.

Orangtua yang mementingkan status dan gengsi, kerap melakukan hal-hal yang tidak semestinya, seperti memberikan uang sogokan kepada panitia penerimaan agar nilai anaknya bisa dikatrol dan lulus proses seleksi. Bisa juga, kalau anaknya gagal, orangtua akan menyekolahkan anaknya ke sekolah lain terlebih dahulu dan setelah 1 semester, anaknya akan dipindahkan ke sekolah favorit tadi. Tentunya dengan membayar jumlah tertentu kepada seseorang.

Yang seperti ini sebenarnya mengajarkan kepada anak untuk tidak perlu berusaha keras meraih impiannya. Toh, bagus buruk nilai yang didapat, orangtuanya akan membereskan masalah dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya.

2. Salah Pergaulan

Bagaimana rasanya berada di dalam lingkungan orang-orang kaya padahal kemampuan diri kita terbatas? Yah, terkadang tidak enak. Karena biasanya lingkungan tertentu akan menuntut mereka yang berada di dalamnya untuk “menyesuaikan” diri dengan kebiasaan yang terbentuk.

Contohnya, kalangan jet-set, orang kaya, tentu berharap mereka-mereka yang tergabung dalam kelompok eksklusifnya berasal dari kalangan yang sama. Punya mobil mewah, pergi berwisata ke luar negeri, dan lain sebagainya.

Sayangnya, terkadang banyak orang karena ingin dipandang oleh masyarakat memaksakan dirinya untuk menjadi “seperti orang kaya” dan bergaul dengan kalangan tertentu seperti ini. Padahal, kemampuan dirinya terbatas dan tidak akan bisa memenuhi tuntutan yang diharapkan dari setiap anggota kalangan tersebut.

Hal ini kerap mendorong seseorang untuk mengambil jalan pintas, misalkan dengan melakukan korupsi, mencuri, dan melakukan hal-hal lain yang tidak seharusnya. Tujuannya hanya demi pengakuan dari mereka-mereka yang ada di kalangan itu.

Mentalitas instan bisa terbentuk karena hal seperti ini.

3. Kemajuan Teknologi (Internet)

Kemajuan teknologi itu pedang bermata dua. Di satu sisi menghasilkan berbagai kemudahan yang membuat hidup manusia menjadi lebih nyaman, tetapi di sisi yang lain teknologi memberi dampak buruk bagi manusia.

Contoh sederhana saja adalah bagaimana kisah-kisah sukses manusia meraih kekayaan tersebar dengan begitu cepat. Seharusnya kisah-kisah seperti ini bisa menjadi inspirasi dan pendorong orang untuk meniru kerja keras dan usaha mereka meraih kesuksesan.

Sayangnya, kebanyakan penulis biasanya selalu menekankan pada “hasil akhir” bahwa seseorang ternyata bisa kaya, misalkan dari ngeblog, tetapi lupa menyebutkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk meraihnya.

Hal ini memberikan gambaran semu karena banyak orang kemudian menerjemahkan dalam cara yang berbeda, yaitu bahwa ngeblog itu adalah cara cepat untuk menjadi kaya. Padahal, kenyataannya tidak demikian kenyataannya.

Blogger-blogger yang berhasil meraup uang banyak biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum bisa mendapatkan kekayaan seperti yang diberitakan.

Apalagi, di masa sekarang banyak sekali internet marketer yang gemar membuat judul-judul atau tulisan-tulisan bombastis, seperti “Cara cepat menghasilkan uang lewat blog” atau “Tips dan trik menghasilkan ribuan dollar dalam 1 bulan”. Tujuannya memang untuk memancing pembaca, tetapi efeknya adalah lahirnya budaya instan dalam masyarakat karena mereka diarahkan untuk berpikir bahwa “Ngeblog adalah cara cepat untuk menjadi kaya”

Banyak yang termakan oleh tulisan-tulisan yang sebenarnya tidak sesuai fakta. Akhirnya lahirlah mentalitas instan dalam diri banyak orang.

Masih banyak kemungkinan lain yang menyebabkan lahirnya mentalitas instan dalam diri manusia. Tiga di atas hanyalah sebagian di antara banyak faktor penyebab.

Ciri dan Karakter Orang Bermental Instan

Sikap mereka yang memiliki mental instan bisa terlihat dari bagaimana hidup mereka sehari hari. Tindakan mereka menjadi cermin dari sikap mental yang dianutnya, seperti :

1) Malas

Tidak mau repot. Semua harus serba cepat dan praktis. Mirip seperti sedang memasak mie instan.

Orang bermental instan tidak akan mau mengerjakan sesuatu yang dianggapnya akan membuat dirinya repot dan mengeluarkan usaha yang banyak. Mereka hanya mau yang ringan-ringan saja, tetapi berharap hasilnya akan besar.

2) Tidak Kreatif

Sulit menjadi kreatif kalau mereka tidak mau repot untuk berpikir. Berpikir kreatif memerlukan daya upaya tidak sedikit dan memerlukan waktu untuk melakukannya. Sesuatu yang tidak akan mau dilakukan oleh mereka yang bermental instan.

3) Suka Melanggar Aturan

Mengikuti aturan itu penting karena hal itu berkaitan dengan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Sayangnya, aturan itu mau tidak mau terkadang membuat repot juga.

Sesuatu yang tidak akan mau dilakukan orang dengan mental instan. Mereka akan mencari jalan dan cara tercepat dan terpraktis menurut mereka meskipun harus melanggar aturan.

4) Egois dan Tidak Sabaran

Ikut antrian itu melelahkan, merepotkan, dan makan waktu. Kenapa tidak langsung menyerobot saja? Lebih cepat dan praktis.

Kira-kira begitulah orang dengan mentalitas instan dalam hal sederhana seperti mengantri karcis bioskop.

5) Ceroboh

Sulit untuk mengharapkan seseorang dengan mentalitas instan untuk mau berhitung dan mempertimbangkan berbagai aspek. Hal itu sangat tidak praktis, memakan waktu, memerlukan usaha. Inti katanya repot dan tidak praktis.

Biasanya mereka tidak akan mau bergelut dalam hal-hal yang rumit dan cenderung mengabaikan banyak hal. Yang terpenting adalah tidak menghasilkan kerepotan bagi dirinya.

6) Gampang Menyerah

Apa yang biasa dilakukan oleh mereka yang bermental instan saat menghadapi maalah atau ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang diharapkannya? Menyerah. Hal itu terjadi karena ia terlalu malas berpikir untuk menemukan jalan keluar dan tidak terbiasa melakukannya. Jadi, menyerah adalah cara termudah yang tidak akan membuatnya repot.

Dan, ciri-ciri atau karakter seperti ini, sama sekali tidak sesuai dengan tuntutan dari dunia bisnis.

Ya. Tidak bisa dibantah sama sekali.

Orang Dengan Mentalitas Instan Tidak Cocok Berada di Dunia Bisnis

Prasangka?

Bukan.

Logika sederhana saja.

Banyak hal yang dibutuhkan dalam dunia bisnis yang tidak dimiliki oleh orang dengan mentalitas instan.

Coba saja bayangkan sendiri kalau tidak percaya.

a) Bisnis butuh kerja keras

Bisnis adalah tentang kerja keras. Keuntungan tidak akan diraih hanya dengan diam dan menanti saja. Tidak akan ada orang yang dengan sukarela memberikan kepada kita uang kecuali kita memberikan “alasan”.

Butuh usaha.

Tidak ada pebisnis sukses yang hanya duduk diam dan bertopang dagu. Semua tidak jarang harus bekerja 24/7 setiap minggu untuk bisa mendapatkan kekayaan yang dimilikinya.

b) Bisnis  butuh kreatifitas

Dunia bisnis adalah dunia dimana tantangan, hambatan, dan masalah akan selalu ada. Jangan pernah berharap bahwa semua akan lancar-lancar saja karena hal itu tidak akan pernah terjadi.

Dan, untuk mengatasi semua itu butuh kreatifitas untuk menemukan solusi dan jalan keluar yang dibutuhkan. Sebuah hal yang sulit diharapkan dari seseorang dengan mental instan.

c) Kesuksesan dalam bisnis butuh waktu

Berapa lama Bill Gates bisa menjadi sukses seperti sekarang? Puluhan tahun. Ketika pertama kali mendirikan perusahaan pun, si pendiri Microsoft itu gagal.

Tetapi, ia belajar dan kemudian membangun ulang perusahaannya sampai sesukses sekarang. Awalnya Microsoft pun tidak besar tetapi dengan kreatifitasnya perlahan perusahaan ini mendunia.

Ada tahap-tahap dalam berbisnis, yang dimulai dari belajar, kemudian praktek. Tidak beda dengan sekolah yang dimulai dari kelas 1,2,3 dan seterusnya.

Dan, susah untuk seorang yang selalu ingin cepat dan praktis untuk melewati berbagai tahap seperti ini. Mereka biasanya ingin langsung berada di puncak, yang tentunya tidak akan mungkin bisa dilakukannya.

d) Bisnis membutuhkan orang yang tidak mudah menyerah

Bayangkan kalau Bill Gates menyerah ketika perusahaan pertamanya Traf-O-Data gagal dan berantakan? Mungkin sistem operasi yang dipakai kebanyakan bukanlah Microsoft Windows, bisa jadi Linux.

Jika Gates menyerah dan berhenti, maka tidak akan pernah lahir Microsoft. Nama itu tidak akan ada di dunia.

Karena sikapnya yang pantang menyerah itulah yang kemudian menelurkan perusahaan raksasa ini. Ia tidak berhenti, tetapi dengan kerja keras, dan kemauan yang keras ia mendirikan perusahaan lagi dan akhirnya sukses.

Sikap pantang menyerah juga sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang pasti ada di dalam dunia bisnis.

e) Bisnis butuh orang yang teliti dan mau repot

Bisnis adalah menjual “sesuatu”, baik barang atau jasa, di atas harga produksinya.

Dan, hal ini membutuhkan banyak ketelitian untuk memperhitungkan berbagai faktor penentu harga. Kesalahan dan kecerobohan bisa mengakibatkan kerugian dan pada akhirnya menggerus modal.

Tidak akan bisa dilakukan oleh mereka yang tidak mau repot dan teliti.

f) Bisnis punya aturan dan etika

Bisnis walaupun dunia yang penuh persaingan tetap memiliki aturan, etika, dan norma. Tidak mengikuti apa yang tertera atau tidak tertera dalam hal ini bisa memberikan dampak negatif kepada sebuah usaha bisnis.

Contoh sederhana, ada aturan untuk tidak memakai formalin dalam makanan, tetapi karena mengincar keuntungan atau menghindari kerugian, banyak pedagang makanan yang mencampurkan zat berbahaya ini ke dalam makanan yang dijualnya. Tanpa mempedulikan resiko kesehatan bagi pembelinya.

Sikap tidak mau patuh pada aturan seperti ini bisa berakibat fatal baik bagi orang lain atau diri sendiri.

Sesuatu yang tentunya tidak diharapkan.

(Baca juga : Usaha Rumahan dan 70++ Ide Peluang Usaha Rumahan)

Jadi, bukan tanpa alasan kalau menyebutkan seorang dengan mentalitas instan sebaiknya tidak terjun ke dunia bisnis. Karakter yang terbawa dari sikap mental seperti ini sangat tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan yang ada di dunia bisnis.

Bukan begitu?

Sharing is caring!